Seperti apakah tingkatan atau level kita di hadapan Tuhan? 1 Samuel 30:22 menyebutkan tentang ‘orang dursila’. Dursila berarti base men atau orang yang berada di level dasar, sedangkan dalam versi The Message, dursila berarti mean spirited yang juga berarti memiliki jiwa atau hati yang kejam atau tega. Mungkin ini adalah suatu patokan atau standar yang paling rendah yang mungkin dimiliki oleh manusia.
Dan tentunya kita tidak ingin demikian. Namun apapun yang terjadi, kehidupan harus selalu meningkat. Artinya, setiap manusia harus berubah menjadi bertambah baik.Tuhan selalu menginginkan kita untuk berubah, menjadi semakin sempurna dan berkenan di hadapanNya. Jika tidak, kita pasti akan merasa bahwa diri kita sedang mengalami kebuntuan hidup. Kita akan merasa tidak bertenaga dalam menjalani hidup dan kehilangan makna hidup yang sebenarnya. Hal ini terjadi karena kita tidak sedang berjalan dalam kehendakNya, sedangkan sebenarnya setiap manusia terkoneksi dengan keinginan Tuhan di dalam hidupnya. Artinya, jika kita sedang merasa demikian, harus ada sesuatu yang dilakukan!
1 Petrus 2:2 berkata bahwa bayi yang baru lahir akan minum susu rohani yang banyak. Pada saat itu, maka ia akan bertumbuh. Kata bertumbuh di sini memiliki arti ‘naik level’ dalam versi The Message. Mengapa kita harus naik level? 1 Petrus 2:9 (sebuah ayat yang sangat terkenal) berkata, “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib:” Kata ‘supaya’ menunjukkan tujuan dari suatu status istimewa yang dimiliki oleh manusia, yang seringkali dijalani hanya dengan mengingat keadaan status tersebut tanpa mengingat tujuannya. Padahal status tersebut diberikan karena Allah memiliki tujuan. Ayat 5 berkata, “Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah.” Ada suatu kondisi penting bahwa kita berkenan karena pengorbanan Yesus Kristus. Jadi, kita tidak memiliki andil apapun atas status istimewa tersebut.
Apakah status tersebut? Kita adalah imamat yang rajani. Imamat yang rajani bukan berbicara mengenai imam dan raja (artinya ada orang yang bertugas menjadi imam dan ada yang menjadi raja). Kita percaya bahwa imam adalah fungsi dan tugas setiap anak Allah. Itulah mengapa imam bukanlah salah satu dari jawatan yang diberikan untuk memperlengkapi pergerakan orang kudus. Imamat yang rajani jika ditelusuri dalam bahasa aslinya berarti ‘Royal Priesthood’ yang berarti imam kerajaan (menggunakan kata basileios yang berarti memiliki sifat natural kerajaan). Imam memiliki tugas untuk menghubungkan, yaitu menjembatani antara Allah dengan manusia. Lebih jelas dapat dibaca di blog sebelumnya mengenai ‘Menjawab Panggilan Hidup yang Sejati‘. Artinya, setiap usaha dan seluruh hal yang kita lakukan harus terhubung dan mengenai kerajaan, yaitu Kerajaan Allah! Sejak awal, misi hidup Tuhan Yesus sangat jelas, yaitu Kerajaan Allah. Itulah mengapa Yohanes Pembaptis disebut sebagai orang yang mempersiapkan Kerajaan Allah dan berkata, “Bertobatlah, Kerajaan Allah sudah dekat!”
Bagaimana caranya? Ayat 12 membahasnya demikian. Kita harus hidup sebagai contoh di antara bangsa yang ada sebelumnya (natives/pribumi). Latar belakang dari surat ini ialah Petrus berbicara kepada orang Kristen Yahudi yang merantau ke Asia Kecil (Pontus, Frigia, Kapadokia, dll) dimana mereka memiliki status sebagai pendatang. Hal ini sama dengan kita yang merupakan warga negara Kerajaan Allah yang juga ‘pendatang’ bagi sekeliling kita. Yang harus dilakukan ialah menjadi contoh dalam segala perbuatan kita. Alkitab versi The Message menjelaskkan tentanag 1 Petrus 2:9 ‘memanggil dari kegelapan menuju terang’ (ekklesia/gereja) sebagai suatu kegiatan yang membedakan gelap dan terang (day and night). Artinya, perbuatan kita harus sangat berbeda dari apa yang dilakukan oleh orang sekeliling kita, sehingga ada suatu teladan yang jelas dalam hidup kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar